Showing posts with label sharing. Show all posts
Showing posts with label sharing. Show all posts

06 May 2008

Karet Gelang itu Bicara Padaku...


Aku suka bermain dengan karet gelang. Entah dari bekas bungkus nasi yang aku beli di warung atau dari bekas bungkusan lainnya. Atau kadang-kadang juga saat tak sengaja menemukannya tercecer begitu saja di lantai.


Karet gelang itu memang tidak protes jika aku ajak bermain. Aku tarik-tarik sesukaku, aku putar-putarkan di jariku, atau kubentuk sesukaku.


Suatu sore, si karet gelang itu berbicara padaku. ”Hei, hidup itu elastis juga ibarat karet gelang. Bisa fleksibel sesuka yang punya. Hidup dapat ”melar” juga. Tapi jangan dipaksakan jika sudah melebihi batas elastisitasnya


Karet yang masih baru pasti keras bentuknya, dan berukuran kecil, tidak terlalu elastis

Tetapi jika sering digunakan, ia akan lebih elastis. Begitu juga dengan hidup, saat kita sering melatih elastisitasnya, hidup akan lebih lentur, lebih fleksibel, mengikuti apa saja yang dibungkusnya.


Hidup seperti sebuah karet. Tak usah paksakan. Karet punya batas ambang elastisitas. Batasi diri jika tidak kuat melebar lagi. Tak perlu berharap sempurna setiap waktu. Boleh kok jatuh sesekali. Seperti karet yang tak pernah mengeluh jika terlempar jauh, terjatuh atau tidak sanggup membungkus seseuatu yang besar.


Ya, hari ini aku belajar seseuatu dari karet gelang. Kecil, terkesan tak berarti tapi sebenarnya banyak berguna dan memberi pelajaran filosofi tersendiri

(Bekasi, 21 April 2008)

31 March 2008

Mommeee


Sepulangku dari tempat kerja, saat matahari meredupkan sinarnya dan mengucap selamat datang senja, kudapati pintu rumahku tertutup rapat begitu pula dengan tirai-tirainya. Gelap. Lampu teras tidak dinyalakan. “Wah, tumben si –Budi kemana ya?” gumamku dalam hati. Budi itu nama adik bungsuku yang untuk sementara tinggal denganku.


“Ya, sedang main kali”jawabku sendiri sambil terus mencari kunci rumah dalam tasku. Tapi, anehnya saat anak kunci itu kumasukkan ke induknya, ternyata kudapati pintu tidak terkunci, spontan saja langsung kubuka pintu dan berjalan masuk. Kuletakkan tas berat ini dan melepaskan sepatuku. Seketika itu juga mataku langsung menangkap sosok yang tidak asing olehku. Adikku Budi sedang tertidur sambil meringkuk dan menyembunyikan seluruh tubuhnya dengan selimut sampai tak terlihat lagi jari kaki dan rambutnya. Seluruh tubuhnya terbenam hangat dalam selimut itu.


Aku menghampiri tempat tidurnya dan berlutut sambil perlahan mencoba mengintip wajahnya dari balik selimut.


Panas! Saat kusentuh tangannya. “Budi, kamu sakit ya?”Sebuah pertanyaan bodoh meluncur begitu saja dari mulutku. “Sudah minum obat belum?Sudah makan belum?Budi mau makan apa sayang?” Cerewetku mulai kambuh, aku menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan yang dijawab hanya dengan tatapan sepasang mata cekung dan rintihan sesekali.


Tak lama aku dan adik perempuanku mulai sibuk mengurusi adik tersayang ini. Menyuapinya, mengompres, memberinya obat penurun panas. Kami hanya berharap, semoga esok demamnya segera sembuh.


Tapi, baru saja aku akan memejamkan mata, kudengar adikku berteriak, “Mami…mami!” Saat kuhampiri dia, matanya masih saja terpejam. “Ah, cuma mengigau!” sambil kurapikan kembali selimutnya.


Tapi teriakan itu tidak kudengar sekali saja, ia mengigau berulang-ulang. Tiba-tiba saja aku merasa betapa seorang ibu sangat berarti untuk anak-anaknya. Saat itu juga kulangsung menekan sebuah nama di dalam ponselku dan kudengar suara mami di kampung sana.


“Ya, mami besok ke sana!” Aku dan mami tinggal berlainan kota. Kami terpisahkan jarak 4 jam perjalanan he.he….(ga jauh, ga dekat kan?)


Esoknya mami datang seperti janjinya. Lega. Rasa khawatir dan bingungku berubah menjadi damai. Entahlah, mungkin merasa bebas dari tanggungjawab karena sudah ada Mami yang akan mengurus semuanya. Budi akan baik-baik saja di tangan Mami.


Malam ini tidak hujan, tetapi dingin sekali, masih sama seperti malam kemarin. Aku pandangi tubuh mungil adik kecilku ini. Ia masih mengigau dan menjerit-jerit. Hanya pelukan cinta Mami yang akan menenangkan adikku.


Sederet kata-kata menyeruak dari kalbuku seiring desiran darah yang mengalir ke atas dan memompa jantungku. “Aku sayang mommie, sayang mommie……!”


Tiba-tiba saja sebuah perasaan hangat menyembul tanpa permisi di hatiku. Teringat betapa mami begitu setia menemaniku saat setiap kali aku harus di opname di sumah sakit, meregang nyawa antara hidup dan mati.


Teringat seluruh masa-masa kecilku di kedua tangan yang sudah tidak muda lagi itu. Entah berapa banyak pelukan yang selalu mendamaikanku. Tangan-tangan ajaib! Lewat tangannya aku dan kedua adikku tak pernah terluput. Tangan-tangan yang selalu mengalirkan cinta. Cinta yang tak pernah habis. Cinta yang sederhana tapi bernyawa. Tangan yang tak pernah letih selalu menggendongku saat bayi, membelai dan memelukku. Menyuapi, menggandeng tangan, mengajariku berjalan, mengajariku cara makan, mengajariku membaca, menulis. Mencuci pakaianku, menyetrika, memasak. Menjahit dan berjualan masih sempat mami lakukan untuk menambah uang jajanku.


Semuanya………….Hanya seorang mami yang luar biasa. Aku bangga memilikinya. Mamiku seorang super mom! Tak pernah lelah. Selalu saja sabar, meski anak-anaknya kadang tak tahu diri dan seenaknya berteriak kepadanya. Mami, aku akan selalu sayang…………Seumur hidupku aku tak akan sanggup hidup tanpamu disisiku. Walau terkadang kita sering berbeda pikir.


Tiga hari lamanya Mami tinggal merawat Budi sampai segar kembali dan hari ini kudapati rumahku sepi lagi. Mami pulang dengan Budi. Papi tersayang sudah rindu ditinggal sendiri di sana he..he..


Sepi kembali, merasa sendiri. Selalu ada yang hilang saat orang yang kita sayang berada jauh di depan mata kita. Tapi, aku percaya hatinya tidak kemana-mana. Aku sayang mami.

(Bekasi, 10 Maret 2008)

25 January 2008

Biarkan Angin Yang Menerbangkannya.



Sore hari di sebuah busway, dalam perjalanan pulang bersama seorang teman aku seperti mendapat pembicaraan menarik mengisi rasa bosan karena perjalanan ini.


“ Sye, gw kok ngerasa kayaknya lo itu sedang ngalami sesuatu ya?” celetuk sahabatku yang membuatku jadi agak terkejut.


“Maksudnya?”tanyaku sambil menatap wajahnya, tak berkedip.


“Ya berasa aja”ujarnya santai.


Aku menghela nafas panjang dan berkata “Gw baik-baik saja kok!”


Tapi sahabatku berkata lagi,”Gak Se, gw tahu kok, berasa lagi! Lo boleh kelihatan baik-baik aja, tapi gw ngerasa aura lo itu beda.”


Aku tersenyum sembari menebarkan pandangan ke sekeliling jalan yang dilalui busway yang kami tumpangi. Semuanya terlihat bergerak ke belakang menghindari tatapanku dan mungkin melupakanku. Aku semakin bingung untuk menjawab pertanyaannya. Kutertunduk dan menghela nafas panjang, pelan-pelan kubuka mulutku.


“Kalau mau jujur, ya gw memang sedang ngerasa cape, San!Banyak persoalan yang rasanya berat untuk dijalani. Tapi, apa iya gw harus diam diri di rumah, masuk kamar, merenungi nasib yang sedang tidak beruntung?Menangis seharian dan berharap masalah masalah akan segera selesai?”


Sahabatku tersenyum simpul sambil mengeryitkan dahi. Penuh rasa heran dia menatapku tajam. Aku hanya menarik nafas dan melanjutkan kembali ceritaku.


“Ya gak lah, dan untuk mengatasi itu, gw gak mau pikiran dan perasaan gw terfokus ke masalah itu.” ujarku sambil menatap ke gedung-gedung tinggi yang berlalu ke belakang lewat jendela kaca busway.


Mungkin akan lebih baik, jika saat ini aku tidak menjelaskan secara detil masalah-masalah yang kualami. Cuma teman di sampingku ini, di perjalanan busway ini yang mengetahuinya. Masalah-masalah yang cuma bikin sesak hati dan bikin air mataku mengalir. Semua orang punya masalah. Semua orang selalu menganggap masalahnya itu paling besar


Berpura-pura merupakan salah satu caraku atasi masalah. Dengan berpura-pura aku, menunjukkan pada semua orang bahwa aku ini baik-baik saja. Aku hanya cerita ke satu atau dua orang tentang apa yang kualami. Ya berbagi saja, karena setelah itu hati jadi lega!Teman terbaik selalu mengingatkanku untuk dapat terbang lagi. Salah satunya yaitu kamu San! Menguatkan untuk selalu dekat juga pada sumber energi yaitu Tuhan! Bukannya aku munafik, aku benci orang munafik! Aku ya aku, aku mau jadi diriku sendiri. Tak peduli dengan sejuta penilaian orang yang hanya bikin hati kita jadi cape.


Menyibukkan diri dengan focus pada kegiatan-kegiatan yang aku ikuti. Belajar focus lagi, meski itu harus berjuang keras. Jadi panitia ini lah, panitia itu lah bla..bla..deh, mengajar anak-anak, bermain dengan mereka, jadi guru les, pergi bersenang-senang dengan teman-teman, mengobrol dan bercerita, tertawa, bercanda, mendengarkan cerita mereka. Aku hanya ingin supaya perasaan sentimental itu “pergi” dari hatiku dan bercerita pada dunia “Aku gak betah tinggal berlama-lama di hati orang ini, karena dia tak mempedulikanku”


“Gw gak mau San, perasaan sedih, kecewa, putus asa atau airmata itu bikin kacau hidup gw. Gw gak mau mengijinkan perasaan –perasaan negative itu merebut 100 % seluruh suka cita dan kebahagiaan gw yang lain. Cukup satu persen saja, dan yang 99% itu tetap tinggal dan jadi milik gw!” ucapku lirih.


“Tapi, lo kan masih tahap penyembuhan Sye, jangan terlalu cape!” Ia menimpali lagi.


“Jujur, memang rasanya cape, dan kepalaku yang habis operasi dulu itu pasti pusing kalau terlalu cape. “


Aku menjalani operasi otak pasca kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Tapi, aku yakin dan percaya aku akan baik-baik saja. Tuhan akan menjagaku. Jadi lucu kalo ingat aku sering salah naik mobil, karena melamun dan tidak focus.


Aku memang sering jatuh dan menangis. Tapi, aku tahu semua itu membuatku makin kuat.Semua orang punya sisi baik dan punya ketulusan hati. Itu saja yang harus aku lihat dan aku ingat. (ingat nasehat Bo Sanchez)


Walau kadang karena sikapku ini, orang jadi memanfaatkanku. Mempermainkanku. Tapi, aku percaya Tuhan manjagaku dan membuat aku merasakan tanda-tanda jika seseorang akan melakukan ini padaku. Ini sudah pernah aku alami. Tuhan baik! Sehingga aku dapat membuat benteng pertahanan terlebih dahulu sebelum orang itu menyakiti, melukai lebih dalam lagi.


“Gw ingat sharingmu San, bahwa semua yang masuk ke tubuh kita tak ada yang menajiskan. Yang menajiskan itu, justru yang keluar dari mulut kita. Oya, bukumu masih aku pinjam -Sayap Sayap Rajawali Bagus dan menguatkan!”


Busway terus berjalan lewati banyak perhentian. Banyak orang keluar masuk dengan berbagai tujuan. Orang dengan keunikannya, dengan kegembiraannya dan juga tentu dengan suka citanya. Tiap orang selalu punya cerita menarik. Tak pandang tua-muda, kaya-miskin, pria-wanita. Semuanya semata-mata hanya karena ingin membuat banyak warna menarik pada lembaran panjang kehidupannya. Makin banyak warna, makin indah!


Aku akan mendoakan mereka yang pernah menyakiti, melukai dan mengecewakanku. Semata-mata, supaya hatiku damai dan aku dapat bersahabat dengan bayangan episode menyakitkan bersama mereka. Semua orang pasti pernah berbuat salah. Toh, aku juga banyak salah. Gak ada manusia sempurna kan?


Aku tidak mau menajiskan diriku dengan menyumpahi atau mengutuki apa yang sudah mereka lakukan untukku. Sudah biarkan saja, biarkan angin yang akan menerbangkan semua rasa-rasa negative ini, dan menggantinya dengan rasa sejuk tak terkira. Episode cerita buruk pasti mengalirkan rahmat tersendiri buatku. Hidup itu proses pembelajaran. Luka-luka itu bikin aku kuat tiap hari. Karena hanya dalam kelemahanlah Tuhan membuat kita jadi kuat.


Jakarta, 15 Desember 2007

(Perjalanan pulang dari Dai TV)

23 November 2007

Kata-Kata Manis


Sepertinya setiap menit di seluruh belahan bumi ini beterbangan dan berhamburan ribuan kata-kata manis. Tapi kata-kata MAAF yang benar-benar tulus, mungkin tak akan sebanyak itu. Kata-kata MAAF kadang sering sekali dipermainkan dan seperti diobral murah!


Aku baru aja ngalamin yang namanya KECEWA, lantaran seseorang yang selalu saja hanya berkata-kata manis. Berulang kali kumaafkan dan kumencoba mengerti. Aku tidak mau berpikir dengan pikiranku sendiri. Hanya ingin menjaga sebuah hubungan pertemanan dengan baik. Tapi, salahkah jika kemudian aku mengungkapkan dengan kata-kataku seperti yang hati dan pikiranku bilang? Dengan resiko rusaknya sebuah hubungan. Aku tak peduli, hanya ingin jujur dan jadi diri sendiri. Aku bicara jujur atau tidak pun, aku pikir hubungan ini juga sudah rusak kok, karena kurang adanya rasa saling menghargai satu sama lain.


Sakit sekali rasanya setelah kita tahu kalau kita ini kurang dihargai! Tapi aku cukup terhibur saat seorang mengirimkanku sms bunyinya :” Biarkan saja jika orang tidak menghargai kita, tapi kita harus selalu bisa menghargai diri kita sendiri. Tuhan memberkati”

Cewek Botak?!?







Kemarin, 19 November 2007, ada berjuta rasa berseliweran dalam dada ini. Gara-garanya pagi hari aku baca email tentang kisah CEWEK BOTAK, lalu malamnya aku pergi nonton film dengan temanku Rina judulnya “Tentang Cinta”.Aku tertarik dengan pemain yang memainkan peran sebagai Audy yang BOTAK alias gundul abis juga, karena chemo therapy kepalanya menjadi botak.


Saat itu temenku spontan tersenyum dan berkata “Bo (panggilan sayangnya untukku) mirip lo waktu di rumah sakit” Aku cuma tersenyum saja, “ Iya, gw dulu juga botak, tapi gw jauh lebih beruntung dari dia, ini masih bisa tumbuh lagi (sambil kuelus rambut dikepalaku yang sudah 5 cm sekarang) dan aku tidak terkena kanker, he..he…” Kami berdua cuma cekikikan sebentar padahal sebelumnya abis melelehkan air mata (abis filmnya sedih sih he..he.. Ceritanya bagus. “Cinta tidak buta tapi memahami!” itu pelajaran baik yang dapat kupetik dari film itu. Lagi-lagi aku terkejut.


Aku di BOTAKIN karena harus menjalani operasi pembuluh darah di otakku karena kecelakaan 10 Juli yang lalu. Tapi sekarang aku sudah tidak botak lagi, rambutku sudah mulai tumbuh lagi meski baru beberapa centimeter saja. Dan belajar untuk menyukai model rambut cepak ini. Bekerja setiap hari tanpa memakai wig. Ya, kapan lagi menikmati pengalaman jadi cewek BOTAK dan sekarang jadi cewek cepak.
Ya sudah dinikmati saja.


Tak akan pernah kulupa, pengalamanku waktu masih botak dulu. Saat pergi keluar rumah, lupa memakai topi atau syal, memang agak menjadi risih karena selalu jadi perhatian banyak orang. Lebih risih lagi kalau diteriakin “Gundul..gundul….!” oleh beberapa anak-anak kecil dekat rumah. He..he…jadi lucu kalau ingat itu.

Oya ini email temenku (Agus) dalemmmm banget isinya :p


Janji – a touching story from India
(Kisah seorang cewek yang rela dibotakin demi sahabatnya)


Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, "Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan."

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya,namanya Sindu tampak ketakutan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada "cooling effect".

Aku mengambil mangkok dan berkata, "Sindu sayang, demi Ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama Ayah."

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, "Boleh ayah akan aku makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta..." Agak ragu2 sejenak... "...Akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaanku?"

Aku menjawab, "Oh pasti sayang". Sindu tanya sekali lagi, "Betul Ayah?". "Yah pasti.." sambil menggenggam tangan anakku yang kemerahmudaan dan lembut sebagai tanda setuju. Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama,istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, "Janji!" kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata: "Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang."

Sindu menjawab,"Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok."

Kemudian Sindu makan dengan perlahan-lahan. Dan kelihatannya sangat menderita
dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya dia mendekatiku dengan mata penuh harap.Semua perhatian (aku ,istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya.

Ternyata Sindu mau kepalanya DIGUNDULIN! Istriku spontan berkata, "Permintaan gila, anak perempuan dibotakin,tidak mungkin!" Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk: "Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain?Kami semua akan sedih melihatmu botak." Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, "Tidak ada 'yah, tak ada keinginan lain," kata Sindu.

Aku coba memohon kepada Sindu, "Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.” Sindu dengan menangis berkata, "Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan aku kenapa Ayah sekarang mau menarik perkataan Ayah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala ) untuk memenuhi janjinya raja real memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri."

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, "Janji kita harus ditepati." Secara serentak istri dan ibuku berkata, "Apakah aku sudah gila?" "Tidak," jawabku, "Kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri." "Sindu permintaanmu akan kami penuhi."

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus. Hari Senin aku mengantarnya ke sekolah. Sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum. Aku membalas lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak, "Sindu tolong tunggu saya." yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki2 itu botak aku berpikir mungkin "botak" model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata,"Anak anda, Sindu benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia."

Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya mulai meleleh dipipinya “Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi kesekolah takut diejek oleh teman2 sekelasnya. Nah, Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya
yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia." Aku berdiri terpaku dan tidak terasa air mataku meleleh. Malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

10 October 2007

Menjadi Diri Sendiri



Menjadi DIRI SENDIRI? Banyak banget kita sering dengar orang berkata demikian "Ya, aku mau jadi diriku sendiri!"
Mudah mengatakannya, tapi untuk menjadi diri sendiri butuh proses panjang yang berliku. Untuk menemukan jati diri kita yang sebenarnya saja itu tidak mudah. Bener-bener butuh proses dan waktu yang tidak sebentar. Menjadi diri sendiri itu indah, kita tidak perlu berusaha untuk menjadi seperti idola-idola kita, mau seperti Delon-lah, mau seperti Krisdayanti, mau seperti Keanu Reaves-lah dan mau..mau...seperti lainnya...... Jadi diri sendiri itu lebih baik!!!Tiap pribadi itu unik kan, tidak ada yang sama, saudara kembar juga pasti akan ada bedanya.Potensi, kelebihan, kekurangan, daya tarik, bakat, kemampuan, perasaan dan banyak lagi tidak akan sama satu dengan yang lainnya. Bersyukur saja apapun adanya kita.

Rasanya usaha untuk menjadi diri sendiri itu tidak akan pernah berhenti.
Menjadi diri sendiri itu adalah perjuangan terus-menerus sampai seumur hidup kita. Tidak peduli apa yang akan orang lain katakan tentang kita, kita akan tetap terus berjalan lanjutkan hidup yang menurut kita itu baik untuk kita. Sejauh hidup kita tidak merugikan orang lain dan kita dapat mempertanggungjawabkannya pada Sang Pemberi Hidup!

Hidup tidak selamanya mulus, selalu saja pasang surut. Menerima hidup apa adanya, menjalaninya dengan tetap kreatif, memberinya banyak warna agar tidak bosan. Ya, hidup harus diberi warna, tidak bagus dan tidak menarik jika warnanya hitam putih saja. He..he..iya kan?

Menyadari penuh sejarah hidup kita, asal-usul kita, memaafkan masa lalu yang menyakitkan, membuka hati, mengakui perasaan-perasaan kita, dan menyusun rencana tentang masa depan kita. Semuanya itu juga proses untuk menjadi diri sendiri.


08 October 2007

Cinta Sejati dan Orang Tua


Bagiku cinta sejati cuma milik Tuhan semata!
Tuhan saja yang sangat mencintai kita secara luar biasa, kekal, tulus dan abadi hingga selama-lamanya. Sejak kita masih jadi benih di rahim Ibu hingga kita sampai kembali ke rumah-Nya

Kita nakal, jahat, mengecewakan!
Tuhan tetap saja mencintai kita, bahkan Ia mencintai kita seperti apa adanya kita. Ia ingin kita untuk tetap jadi diri sendiri. Apapun kita dan bagaimanapun kita, Ia tetap saja Cinta.

Aku pernah denger katanya orangtua mencintai anak sepanjang hayatnya. Cinta orangtua juga cinta sejati. Bagiku belum tentu!
Kadang orangtua juga sering memaksakan kehendaknya pada anak-anaknya. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi seperti yang mereka harapkan, bukan membantu mereka untuk menjadi dirinya sendiri. Dengan dalih ini bahwa mereka ingin memberikan yang terbaik, tapi pada intinya tetap saja bahwa kita harus menerima keputusannya yang mungkin saja bertentangan dengan hati kita.

Benar menjadi sebuah kewajiban jika seorang anak harus berbakti pada orangtuanya, tapi bukan berarti dia harus mengingkari dirinya sendiri. Aku lebih suka jika seluruh orangtua di muka bumi ini, membiarkan anak-anaknya mengambil keputusannya sendiri. Tapi tentu tidak dilepas begitu saja, tapi diberikan pengarahan-pengarahan, bimbingan-bimbingan, dan semua hal yang anak-anak wajib mengetahuinya. Tapi, setelah itu biarkan anak-anak memilih dan memutuskan sendiri apa yang paling baik buat dirinya.
Mereka akan sekolah di mana?Jurusan apa?akan bekerja di mana?Profesi apa?atau akan menikah dengan siapa? BIARKAN MEREKA MEMILIHNYA SENDIRI!!!
Orangtua hanya boleh memberikan pilihan-pilihan dan pertimbangan-pertimbangan untuk semua pilihan itu, tapi TIDAK MEMUTUSKAN APA YANG HARUS DIPILIH si anak!

Sehingga, anak-anak diajarkan bagaimana BERTANGGUNG JAWAB dengan pilihan yang sudah mereka buat. Bagaimana jika anak salah pilih? Ya, biarkan saja, itu proses kok, lebih baik SALAH PILIH daripada TIDAK MEMILIH atau DIPILIHKAN!!!
Saat anak tersebut menyadari bahwa pilihannya salah, bukan berarti ia harus menyesal!!!Tidak ada yang harus disesali dalam hidup, semua hal kecil yang terjadi mengalirkan rahmatNya sendiri. HIDUP itu proses pembelajaran bukan? Untuk jadi lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi. TUHAN akan selalu menegur, melindungi setiap orang dengan sangat baik. Tidak ada yang akan pernah LUPUT dari perlindungan kasihNya. Yang dibutuhkan anak-anak adalah dukungan dan bimbingan agar kaki-kaki mereka tetap dapat menapak dengan benar, meski jalanan yang dilalui tidak rata dan begitu penuh onak duri.

Jika anak-anak harus jatuh, biarkan saja mereka mengalaminya dengan wajar TAPI TETAP BANTU agar mereka mampu bangkit lagi,
TUBUH dan JIWA mereka punya obatnya sendiri untuk menyembuhkan mereka. Tapi obat itu perlu rangsangan dari luar agar obat itu sungguh bekerja dengan alami dan tepat guna.


Setiap anak adalah UNIK dan HEBAT! Tak ada yang harus dibanding-bandingkan! TERIMA dan HARGAI saja. Waktu berproses mereka pun tidak sama untuk dapat menemukan JATI DIRI mereka yang sebenarnya. BANTU saja mereka untuk menemukan diri mereka sendiri, jangan biarkan mereka selalu menjadi anak kecil yang segalanya harus diatur! Menjadi bayang-bayang orangtua mereka adalah mimpi buruk bagi tiap anak di bumi ini.

BIARKAN MEREKA MENJADI DIRI SENDIRI! Bumi ini tentu akan lebih indah...........

29 September 2007

Kalian adalah Malaikatku, Mujizat itu Nyata



"Saya percaya bahwa teman-teman adalah MALAIKAT-MALAIKAT pendiam yang SELALU MENJAGA kita agar TIDAK JATUH, ketika sayap-sayap kita kesulitan mengingat bagaimana untuk TERBANG "
(Aku copy kalimat itu dari artikel ttg KEMATIAN, Gak tahu kenapa, berasa seseuatu aja :p TERIMA KASIH TELAH MENJADI SAHABAT-SAHABATKU!)

Sang surya tersenyum mesra sekali padaku hari ini. Langit cerah tanpa awan menghalang. Dan begitu banyak rasa yang berwarna sudah terlukis di dada ini sejak lama, ingin kualirkan dan kutularkan buat kalian semua.

DOA ITU SUNGGUH BESAR KUASANYA, MUJIZAT ITU NYATA!!!! SEMUA BERKAT DOA TEMAN-TEMAN SEMUA! Aku sudah kerja dari Senin kemarin, tanggal 13 Agustus 2007, Aku sudah merasa sehat! Dan dari Senin, Selasa, Rabu hingga hari ini, aku baik-baik saja, ingatanku sudah pulih (kecuali yang di RS, karena dokter bilang tidak direkam dengan baik oleh otakku yang lagi error) tinggal fisik yang belum pulih, masih cepet cape en belum seprima dulu lagi. Masih gak boleh cape en tetep banyak istirahat, en gak boleh mikir berat-berat dulu (emang berapa kg ya beratnya he.he..) Ya, gitu sih kata dokter, tadinya aku mau dikasih istirahat SEBULAN lagi, sampe benjolnya ilang, tapi aku dah keburu bete en sedih kl di rumah mulu, dah 5 minggu gitu loh..., Aku coba nerapin NLP nih (ingat seminar motivasi Mas Rizal kan?AKU HARUS PEGANG KENDALI ATAS PIKIRANKU, BUKAN PIKIRAN YANG MENGENDALIKANKU, AKU BISA JIKA AKU MAU, Ya, aku HARUS BERJUANG utk benar2 sembuh. Dokter bilang utk pulih benar butuh waktu 3-6 bulan (lama banget ya?) Jadi maafin aku belum bisa aktif or gabung lg di KKMK, POKE, AGENDA 18, atau GA .., ntar kalo dah PRIMA LAGI aku pasti gabung lagi he..he..Jujur kangen ma kalian semua..........

Rasanya seperti baru bangun dari mimpi buruk berkepanjangan. Ya, namanya musibah, tp aku menemukan begitu banyak hikmah di balik kejadian ini. Rencana Tuhan sulit dimengerti ya?

Saat kerja kepala gundulku ini aku tutupi pake syal aja dulu, abis disekitar bekas jahitannya masih benjol en merah, pake topi aja sakit he..he..apalagi kl pake wig he.he..

Jika kutengok lagi ke belakang sana, banyak sekali episode-episode rumit sudah kulewati. Apapun judulnya itu, senang, sedih, airmata atau putus asa dan segala macam rasa yang ada di bumi ini. Aku percaya sungguh semua akan berakhir dengan baik. Ya,.......jika belum baik pasti itu belum akhirnya, jangan putus asa untuk terus SABAR lewati prosesnya :p, gitu kata teman-teman (meski jujur saat kita benar-benar merasa lemah, sulit untuk mengerti ini!)

10 July 2007, hari naas itu, aku tak akan bisa lupa. Selama 14 hari di Rumah Sakit itu, banyak sekali yang lupa, sedikit sekali yang kuingat dan bentuknya hanya seperti slide photo saja, itupun hari2 terahir saja di RS. Ya kecelakaan itu, yang telah membuatku harus menjalani operasi di otakku.(aku ngeri ngebayangin otakku dioperasi, pendarahan otak?pembuluh darah di otakku pecah?tulang rawan otakku retak?apalagi kalo lihat bekas jahitannya yang masih jelas terlihat di kepalaku yang gundul ini, he..he.. serem banget........)Fungsi memoriku jadi terganggu. Kalau diibaratkan komputer rada-rada error or "nge-hang" kali ya he..he.., malah kata dokter kl aku gak operasi atau operasinya gagal aku bakal gak selamat or aku bisa jadi gila or amnesia he..he..(wuih itu lebih merinding lagi dengernya)

Sabtu, 14 Juli, katanya aku sudah terlihat baik-baik saja. Tapi aneh, kata mamaku, hari minggu malamnya 15 Juli, aku sudah muntah darah, kemudian senin pagi pecah pembuluh darah, dan selama 2 hari tidak bisa kenal siapapun, bahkan keluargaku sekalipun. Aku hanya bengong dengan mata yang kosong dan sangat menakutkan. Akhirnya Rabu harus operasi, dan masuk ruang ICU. Tapi Puji Tuhan, Kamis sudah masuk ruang perawatan, dan sudah bisa mengenal orang. Tanggal 23 Juli aku boleh pulang dari Rumah Sakit. Tinggal pemulihan dan terapi yang mungkin memang butuh waktu. Semua berkat bantuan doa yang tidak putus-putusnya dari teman-teman semua. Mamaku bilang hampir setiap hari kalian datang, berdoa dan bernyanyi mohon Tuhan buat mujizat sembuhkan aku ya?


Tp PUJI TUHAN, aku dah baik-baik aja sekarang he..he.., TUHAN ITU BAIK! Sungguh Tuhan itu baik buat setiap orang yang bersandar padaNya. Adalah suatu muzizat dari Tuhan kalau keadaanku saat ini lebih baik. Dokter yang selama ini menanganiku pun berkata, dia tidak menyangka perkembanganku setelah operasi demikian baik.

1 Yoh 5:14, Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut KehendakNya

Mendengar temen2ku bercerita saat aku dah di kost an, tentang bagaimana aku dan apa saja yang sudah kukatakan pada kalian, kadang-kadang nyambung dan terlihat baik-baik saja (meski terlihat lemah dan manja) kadang-kadang gak nyambung, kadang-kadang berkali-kali aku menanyakan hal yang sama, meski sudah kalian jawab beberapa kali, kadang-kadang bicara ngawur dan aneh ya?Beberapa bilang seperti bukan aku yang di Rumah Sakit itu ya?he..he...(trus siapa dong?)

Terima kasih ya, untuk semua cinta, doa, perhatian, dukungan, bantuan dan semuanya dari teman-teman. Yang terpenting Terima Kasih TUHAN, ENGKAU JURU SELAMATKU SUNGGUH,

-- Terima kasih untuk semuanya, (tak dapat kusebutkan satu persatu) kalian adalah bintang-bintang di hatiku, selalu beri terang saat hatiku redup jadi gelap dan takut. Tak akan kulupa semuanya.
TUHAN MEMBERKATI.


Che

25 September 2007

Hidup itu pilihan...



Pernah tidak temen-temen ngerasa hidup yang kita jalani ini berat banget?Atau kita suka bingung kalau harus dihadapkan pada begitu banyak pilihan?Sering merasa ragu apakah pilihan kita ini benar atau salah?Pernah berpikir kita adalah orang yang menyedihkan?Putus asa, hampa dan segudang rasa-rasa negative lainnya? Nah, baca tulisan ini ya, siapa tahu bisa menguatkan…….?


Mas Rizal bilang, "Hidup adalah pilihan. Kita memilih untuk bahagia. Tidak memilih juga pilihan........, tidak memilih untuk TIDAK BAHAGIA. Semua kondisi yang terjadi, peristiwa2 sedih, kesal dsb dsb yang buat kita jadi sedih, kecewa,takut dan khawatir sebenarnya semua berawal dari ketidakmampuan kita mengendalikan pikiran kita. Lebih tepatnya alam bawah sadar kita. Jadi sebisa mungkin karena PILIHAN kita itu, kita harus pandai mengolah pikiran kita, untuk selalu berpikir positif, positif dan positif. Jangan berpikir atau membuat label buruk buat diri sendiri, karena kita akan menjadi seperti yang kita pikir nantinya."

"Sukses itu bukan diartikan dengan punya banyak uang, jabatan tinggi, terkenal or pengakuan-pengakuan dari orang lain bahwa kita sukses. SALAH BESAR! Sukses itu mindset!, It is not a journey nor a destination. It is already within you. Sukses sudah ada dalam diri kita sendiri tinggal dibangunkan saja dari tidurnya Sukses adalah suatu keyakinan yg memberi dasar semua perbuatan. Dengan bersyukur setiap hari apapun yang kita alami, merefleksikannya dan menghapus semua kata2 negatif dari diri kita dan menggantinya dengan kata-kata positif, kita akan merasa sukses setiap hari. " (Jennie S BEv)


Saripati yang saya ambil dari buku ini adalah tiap orang adalah sukses. Mungkin hanya bidang tiap orang itu berbeda, kelebihan en talenta tiap2 orang tidak sama. Misal si-A tidak pandai di akademis sekolah, nilainya buruk terus, tapi dia pandai menyanyi. Nah, kl dia mengembangkannya maka menyanyi akan menjadi sukses buat dia. Ini bergantung bagaimana kita mengenali diri kita. Tuhan menciptakan kita dengan fasilitas nomor satu. (seperti yang Mas Rizal bilang)


Tiap orang adalah UNIK. Ayo galilah keunikan itu, pasti ada. Pernah nonton TV acaranya Taufik Savalas curhat? Ia bercerita otaknya pas-pas an, ekonomi kurang tidak bisa kuliah, body gendut, tampang tak begitu ganteng. Sepintas tak ada yang dapat dibanggakan or mana keunikannya?Tapi nyatanya ia sadar talentanya yang selalu membuat orang tertawa jika ada didekatnya. Ini ia kembangkan, dan hasilnya ini memberi banyak kehidupan yang banyak berarti buat dia dan keluarganya.


Kembali lagi, Hidup memang sebuah pilihan. Bahkan dari mulai kita bangun tidur, apa saja yang kita lakukan adalah karena hasil memilih. Kita memilih untuk bangun meski masih ngantuk dan cape, dan pergi kerja. Bukan kita BERKORBAN (mengorbankan waktu tidur kita). Kita memilih untuk bekerja di PT A, bukan di PT B juga karena pilihan kita. Setiap pilihan mengandung begitu banyak konsekuensinya. Pilihan juga menentukan apa yang paling penting/apa yang paling kita prioritaskan saat ini. Tapi yakinlah KITA BISA LEBIH BESAR DARIPADA APAPUN JUGA YANG TERJADI PADA KITA.


Di acara seminar itu juga, anak-anak jalanan dari Griya Asih berkesempatan untuk ikut datang. Kakak-kakak pendampingnya baik hati membelikan mereka tiket seminar :p. Waktu dua minggu yang lalu aku ngajar mereka , Romlah en Novi berantem. Ujungnya Novi nangis ke aku sambil cerita buanyak banget termasuk keluarganya, (sedih dengernya buat anak 9 tahun kayak dia) Itu baru cerita satu anak, yang kebetulan mau cerita dan mengalirkan rasa yang menumpuk di hatinya. Di Griya Asih ada kurang lebih 43 anak? Dan masing-masing pasti punya problem masing2. Bagaimana kalau mereka mengalirkannnya dalam bentuk yang tidak baik? Program motivasi ini untuk membantu adik-adik GA bahwa mereka tidak perlu takut or khawatir akan apapun, Mereka bisa jadi apapun yang mereka mau, meskipun mereka memiliki banyak keterbatasan ini dan itu. Anak-anak perlu ditanamkan rasa percaya diri, termasuk membangun mimpi-mimpinya. Meskipun acara ini tidak dikhususkan untuk anak-anak saja, tp saya pikir ini cukup universal.


Tulisan ini hanya sekedar refleksi saja dari acara Seminar Motivasi Mas Stefanus Rizal dkk, di aula atas St Arnoldus, Bekasi, 13 Mei 2007 yang lalu. EO nya KKMK St Arnold gitu loh he..he.. Seminar yang sengaja dikemas penuh dengan games yang menyenangkan dan benar-benar menginstall ulang sukses yang sebenarnya sudah ada di dalam diri kita masing-masing (sebut saja membangunkannya kembali.


Refleksi ini juga terinspirasi dari acara semalam bareng temen-temen KKMK, mencoba mengulang yang didemonstrasikan Mas Krisnamuthi tentang memecahkan keramik memakai lampu bohlam, ditambah dengan diskusi seru :p. Ingat juga demonstrasi dari Pak Adi Siswadi sewaktu memecahkan besi hanya dengan kertas koran? Atau saat Mbak Irmi dan Mas Soni memperagakan tentang “kekuatan pikiran?” hanya dengan konsentrasi dan menyamakan nafas? Tak ada yang tak mungkin asal kita pikir kita bisa dan libatkan Tuhan dalam segala sesuatunya.

Che