Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

06 August 2008

Tenang













Saat binar jadi berpendar

Dan awan berarak menjauh

Langit tak malu-malu

Menudunginya....


Sampan terus terkayuh

aku diam tak bertelut

Kubiarkan damai

Memelukku mesra.
Air bergejolak jadi diam

Sampanku jalan tenang.


(Cikarang, 6 Agustus 2008)

27 June 2008

Menjadi Yang Dituakan!

Tidak mudah menjadi seorang yang dituakan
Apa saja terkadang selalu terlihat salah
Tidak semua niat baik ditanggapi dengan baik.


Tidak mudah untuk selalu tersenyum
Harus berperang keras dengan kernyut dahi dan mulut yang mengatup rapat
Hanya sabar, sabar dan sabar yang membuatnya menjadi mudah
Sabar dengan totalitas penuh akan penerimaan totalitas mereka
Terima complete set!


Biarkan Tuhan saja yang menjadi jawabannya
Dan biarkan mereka merasakan betapa baik-Nya Engkau
Asalkan mereka mau percayai itu.
Aku mengerti setiap orang bebas untuk menjadi dirinya sendiri.
Ya, dan proses untuk setiap orang dapat menemukan jati dirinya, tidaklah sama.
Dan aku bukan Tuhan bagi mereka.
Aku hanya seorang anak kecil yang punya begitu banyak kekurangan
Tapi aku sangat sadar
Mereka itu warna warni dan bintang terang dalam hari-hariku.


(Untuk adik2ku tersayang, 21 Januari 2007)

Percakapan Yang Tertinggal

Aku tersesat dalam kebingungan

Ada yang menyelinap di antara dingin pagi dan kabut yang mengaburkan


Ada percakapan yang tertinggal di ruang tamu rumahku

Gerimis menyapaku di senja muram

Tak jua mereda rintiknya

Terus mengucur ringan

Tak jua mengering


Lalu aku terdiam

Mencoba berbicara dengan angin yang datang bersama hujan

Mengeja kata-kata yang telah terlontar

Terlambat menyadari


Sudah terlalu lama suaramu kuimpikan bersama gerimis

Adalah pertemuan itu terjadi

Tapi virus menciptakan amarah

Menciptakan pikiran buruk menjadi pemenangnya

Akal sehat dan sikap bijak terkalahkan


Di kelengangan angin malam yang suntuk

Daun-daun sujud jatuh di pekarangan

Seperti ada sederet kata tertinggal

Ada jiwa terpecah

Merayap pada cermin yang berdetak

Kuterjemahkan jejaknya

Jalan-jalan membuat persimpangan pada cermin jiwa


Adakah kabut tersingkap

Temukan hati bening

dan bayang-bayang menemukan kejelasan tentang bentuknya?

Ah, entahlah aku hanya seorang pengecut

Untuk berani mengetahuinya

(Bekasi, Sabtu 060408)

07 May 2008

Sarapan Cinta di Pagi Buta







Aku ingin meniup seruling

Dan kutiupkan nada demi nada

Yang mengalun hangat di resonansinya

Dan ingin kusampaikan betapa baiknya Tuhan


Pagi ini saat mentari masih malu-malu menampakkan diri

Terbius rasa nyaman dalam pelukan malam

Kudengar kicau burung ramai dan riang

Kusujud di kapel Katedral


Siapkan hati untuk hari ini.

Pukul 05.30 kuberanjak pergi

Karmel tujuanku, adalah kelanjutan langkah dari Katedral ini.

Mencari sedikit makanan bagi jiwaku yang hampir terlupakan


Langkahku tiba-tiba saja terhenti

Dan mataku terperangkap pada dua sosok insani

Sepasang Oma dan Opa berjalan bergandengan tangan

Begitu mesra berjalan menuju Gereja.

Rambut mereka sudah memutih semua


Jalan mereka tidak tegap lagi.

Tujuh puluh tahun?Hm....

Delapan puluh tahun??

Opa menuntun Oma dengan begitu hati-hati

Meski tangan Opa yang satunya lagi harus bersandar di tongkat penyangga

Menyangga tubuhnya yang tidak tegap lagi

"Ah....Tuhan, inikah sarapan cinta untukku?" desahku.

Seketika hatiku menjadi hangat


(Katedral, 1 Mei 2008, Kenaikan Isa Almasih)

Ayo Terbang









Untuk Isma-sahabat kecilku.


Ada yang kukagumi

Pada mata indahnya yang berpendar terang.

Meski ada benjolan besar di lehermu.

Saat kita saling bergandeng tangan

Dan menari poco-poco sama sama.

Kamu tertawa selepasnya.


Adik kecil,

Lupakan saja suara-suara sumbang

Yang menghanyutkan air matamu bermancur mancur

Jangan takut!

Terus saja terbang, dan jangan pernah berhenti karena takut!


Sayap-sayap kecilmu menantimu untuk menggerakkannya.

Jalanmu masih panjang, Adik Kecil!

Ayo kembali terbang dan jemput mimpimu.

Ayo terus terbang!


Lukislah langit dengan kepak ceriamu

Layaknya anak sebaya usiamu.

Birukan jejak awan!


Maka kau pasti akan takjub

Betapa kau sangat berharga

Meski kau hanya sebatang kara.

Kamu membuat semuanya jadi tampak indah


Adik kecil,

Kamu juga telah melukis senyum di bibirku.

Membuat hatiku jadi damai seketika.

(Panti Sinar Pelangi, 21 May’06)


18 February 2008

KATA-KATA


Jika kata-kata menjadi tanpa makna
mungkin bahasa-bahasa lain dapat menggantinya
(itu kata-katamu dulu saat kau memilih bahasa gambar utk mewakilinya)



Tapi apakah KATA-KATA harus selalu bermakna?
Jika kadang hanya bersalutkan manis yang semu?
Apa arti kata-kata itu bagimu?
Apa yang bergaung di baliknya?
Ah...........hanya kau yang tahu
Uraikan saja sesukamu..............
Biarkan aku mendengarnya

Tapi, ..........jika tidakpun...
kurelakan angin menerbangkan kata-kata manismu
agar aku sungguh .........
dapat bersahabat..............
dengan jejaknya yang tertinggal

Tak mudah bagiku bersahabat dengan kata.
Kata yang meluncur bebas dari tuannya.
Ya, KATA-KATA
Meski aku sering memilihnya menjadi bahasaku.

Tiap kata bisa saja bermakna ambigu.
Yang membuatku tersekap dalam bisu dan ragu.
Mematikan syair rindu yang dulu merayap di hatiku.
Aku hanya ingin bertemu
tuk mengurai kata menjadi bertemu makna.
Itu saja!
Lainnya belum tahu!

Tapi bahasamu mengartikan kau tak pernah harapkan hadirku.
Atau entah apa.
Tapi kenapa kau masih setia mengirim KATA untuk jejak-jejak itu
Saat kurela angin dan hujan menghapus jejaknya.

(Cikarang, 18 Februari 2007)

30 November 2007

Penuh Lagi


Gelas itu terisi penuh kembali kemarin

Dan siap untuk bekal perjalananku lagi


Beberapa hari yang lalu

Rasanya lelah dan haus

Aku kesakitan dan merintih

Gelas itu terlihat kosong


Aku berusaha untuk meminta air

Air sejuk pada sahabat-sahabatku

Meski aku diberi hanya setetes

Itu ringankan hausku

(Cikarang, 25 Nov 2007)


Air sejuk buatku berarti rasa damai dan semangat. Gelas itu hati kita.


Terkadang hidup tak selalu memberikan yang kita inginkan tapi hidup SELALU memberikan SEMUA YANG KITA BUTUHKAN.

Aku pernah dapat email bagus dari sahabatku Irmina :


"Apapun yg kita alami baik itu kebaikan atau keburukan, apabila hasilnya akan membuat kita menjadi lebih baik maka KEBURUKAN itupun juga salah satu dari KEBAIKAN. Semua fenomena yg kita alami hanya 3% yang "TERJADI" selebihnya 97% adalah "REAKSI"
Semakin baik kualitas reaksi kita terhadap sesuatu yg terjadi, maka semakin baik pula kualitas hidup kita
. Jadi menurutku, hal yg terpenting dalam menjalani hidup adalah Bagaimana Memanage setiap reaksi kita terhadap setiap hal kejadian yg kita alami. (inspirasi Mario Teguh)

24 November 2007

MATAHARI











Matahari membuatku malu hari ini

Ia menggigitku dengan panasnya

Ia hanya sendiri

Tapi Ia tak merintih


Ia terus saja bersinar

Kadang lembut dan hangat

Kadang terik dan galak


Kadang aku tak mengerti

Yang kumengerti

Ia selalu saja Setia


Setia temani aku

Jalani hari

Penuh dengan episode

Tentang cinta

Tentang luka

Tentang kecewa

Tentang harapan

Tentang semangat

Tentang apa saja………


Aku malu padanya

Sampai kuberusaha

Melarikan diriku darinya

Tapi Ia selalu ada

Untukku

Beri terang dan cahaya.

25 September 2007

Gugur



Daun-daun itu berguguran
satu demi satu
rontok ke bumi
seperti harapan-harapanku
yang terkadang juga berjatuhan
mencium bumi

Tersungkur dan jatuh
lalu angin-angin kuat
kembali menerbangkannya

Ya, daun-daun itu
terbang ke atas, ke bawah
ke atas dan ke bawah
dan seterusnya
kembali mencium bumi

Lelah dan lemah
putus asa dan air mata
itulah warna kejujuran
yang kadang-kadang tampak
pada insan bernama manusia
pada diriku juga

Dan daun-daun itu
setia menemaniku
hingga kuselesaikan
dan tuntaskan tangisku

Dalam loncatan detik-detik membisu
dan suara riang kecipak air
memberi irama sendiri pada daun
yang gugur ke bumi

Lalu kudengar suara-suara malaikat
bernyanyi dengan nada-nada sendiri
Samar-samar...............
Kumencoba mengejanya
lewat pendengaranku yang lain

Katanya:"Semua boleh jatuh, semua boleh gugur!
Tapi harapan harus selalu ada!
Jaga dia selalu di tempat tertinggi
agar pohon-pohon dapat menghijau lagi
dan daun-daunnya makin rimbun, tak peduli kalau
masih akan ada daun yang gugur,
Toh, pohon tetap hijau dan rimbun!"


(28 Juli 2007, saat lewati masa pemulihan pasca operasi
karena kecelakaan 10 Juli 2007)

05 July 2007

Yang Begitu Menular (Untuk Mas Bejo)

Aku tak berkedip menatap wajahmu

satu per satu kenangan itu berhamburan di memoriku

Air mataku meluap tak tertahan

Aku ingin berbisik padamu

Meskipun matamu terpejam

Meskipun kau terdiam kaku

Aku ingin berbisik padamu

lewat rangkaian kata ini


Mas Bejo,

Kau begitu sangat menular

Entah sudah berapa banyak

Kapal-kapal harapan kau luncurkan dari tiap hati kami.

Entah sudah berapa banyak kau roketkan

semangat-semangat yang kami biarkan tidur pulas,

Entah sudah berapa sering kau sentuh hati kami

Hati yang terkadang mudah runtuh dan mulai pasrah

pada angin dan rintik hujan,

Membuat kaki berat menapak lagi.


Kau begitu menular

Semua video kenangan bersamamu

Semua ratusan foto-foto kehadiranmu

Sungguh membuatmu tak pernah mati

Senyummu, sinar matamu, celotehmu

usilanmu, tingkahmu dan semua kegilaanmu

yang selalu saja menghibur dan membuat kami

terbahak lepas seenaknya.

Namun tak jarang juga kau membuat kami terharu.


Kau tak pernah mengeluh, meski hidup seperti mengunyah air matamu,

Kau malah bersahabat dengan matahari.

dan kau tularkan semua sinar terangnya dan hangatnya buat setiap hati.


Selamat Jalan Mas Bejo

Doa kami selalu sertamu.


(RS Mitra Keluarga Bekasi Timur, 16 Juni 2007)


Sekedar mengenang Mas Bejo, yang sabtu kemarin dipanggil pulang oleh Bapa, seseorang yang sangat luar biasa.


Ia sangat menulari teman-temannya dengan SEMANGAT! Pendekatan yang dia pakai cukup unik. Selama hidupnya ia nyaris tak pernah peduli dengan dirinya sendiri, bahkan waktu ia dirawat di RS St. Carolus dengan hipotesa sakit komplikasi yang rumit (jantung, darah tinggi, liver, asam urat, diabetes, en gagal ginjal) ia tak mau kelihatan sakit, ia terus saja melucu en menghibur teman-teman yang menjenguk dia. Bahkan di rumah sakit dengan teman2 sekamarnya ia selalu menghibur en memberi semangat ke pasien2 lainnya.


Semasa hidup, ia banyak berjasa tidak hanya buat KKMK Bekasi, tp juga banyak kasih warna beda di KKMK KAJ, Choice en juga benar2 mengembangkan SENTRAL (Komunitas Buruh di Bekasi) lewat kemandirian ekonomi (Wiraswasta Sederhana) en Sistem Koperasi yang modern.


Ia mau melayani siapa saja, menghibur siapa saja, menolong siapa saja tanpa pamrih, bahkan di hari-hari terakhirnya selalu saja memikirkan orang lain.


Itulah Mas Bejo, pemilik nama lengkap Antonius Slamet Riyadi, seorang yatim piatu yang punya kehidupan dan hati begitu luar biasa.


28 April 2007

Hilang

Kucoba bergegas mencari matahari

Yang kudengar katanya berlari

Janganlah pergi


Kecamuk tak pasti, membakar emosi

Dimana damai yang aku cari?

Jauh……………………….


Banyak hal yang mesti kucari

Hilang ………

Menjauh…………….

Tapi hatiku tahu

Semuanya kan kembali disini.

Bekasi, 22 Oktober 2006

Pelangi

Sahabat,

Hujan sudah mulai reda

Dan diatas sana

Ada warna pelangi


Sahabat,

Hujan sudah biasa

Petir, halilintar dan angin kencang

Seperti kemarin

Sudah biasa


Pelangi telah mengajariku tentang harapan

Kala sedih dan air mata mengalir

Berteman luka dan kecewa

Aku ingat pelangi yang warna-warni

Lembut dan serasi seperti lukisan alami


Setelah hujan badai

Setelah petir menggelegar

Setelah kilat yang menakutkan

Setelah langit gelap

Setelah angin kencang

Ingat pelangi


Pelangi,

Mengingatkanku bahwa masih ada matahari

Matahari yang mengajarku juga untuk setia

Setia jalani hidup apa adanya

Tidak menangis kala sendiri

Kala bintang dan bulan mengambil alih

Toh, masih ada esok hari

Untuk dapat bersinar lagi


(Tol Ckr-Bks, 17 Mar'07)

Rindu


Menjumpaimu ketika sang surya malu-malu beranjak pergi

Hanya lewat kenangan-kenangan yang diterbangkan angin


Ada pancaran kesederhanaan yang memikat

Kerendahan hati dan kehangatanmu

Membuatku tersenyum

Tergetar bersama gelombang


Telah kukirim senyumku padamu kakanda,

Tak habis-habisnya kumengerti

Dan telah kubiarkan semua kenangan tentangmu

Selalu menemaniku melewati hari-hari


Angin mengantarkan kerinduan

Yang membawaku sampai disini

Ingin kuurai rindu

Meski kadang ada tanya yang menari

Bagaimana dapat kuterjemahkan mimpi-mimpimu

Tentang kita di esok hari


Rapi kusimpan catatan bersamamu

Meski baru beberapa lembar saja

Tapi hati tak pernah bohong,

Ada rasa damai di dekatmu.

Di matamu ingin kugambarkan perjalanan hatiku.

(Bekasi, 17 Nov 2006)

Tentang Mimpi



Telah kuungsikan mimpi

Ucapkan selamat tinggal pada sawah ladang

Aku pergi ulurkan persahabatan dengan mesin-mesin pabrik,

Gedung-gedung perkantoran yang katanya menjanjikan!

Tergoda nyanyian zaman yang dibawa televisi-televisi masuk ke seluruh denyut nadiku

aliran darahku, merasuk, mengalir...... dan membangkitkan gairahku untuk bermimpi



Gemerlap kota Jakarta.............

Ya, dan aku pun terhanyut

Terus mabuk……….mabuk!

Tak berpijak lagi pada bumi dan tanah leluhur yang melahirkanku

Gelombang dan terpaan yang dimiliki Jakarta dengan iramanya

Seperti magnet bagiku.



Tapi lama-lama irama itu mengapa makin menyayat-nyayat hati, genderangnya apalagi

Melindas tanpa ampun, tanpa bulu, tanpa iba……

Buat aku yang pasrah dan bergantung begitu saja pada angin dan rintik hujan


Akhirnya, aku terseret ke lorong-lorong jalan, ke terminal-terminal, ke lampu merah-lampu merah.

Sambil jajakan dagangan, dan teriakkan harapan

Harap daganganku laku dan pulang bawa uang untuk anak-istriku

Belajar terjemahkan tiap langkahku, aduh…..mengapa?

Tangis batin menjerit-jerit!

tapi terhibur pengertian dan kesabaran

setiap kali Matahari mengunyah airmata

Air mata yang terus menghitung berapa utang terbebani


Tapi, mimpi itu tetap ada

Mimpi pijar lampu neon kota, mimpi anakku bisa sekolah

Meski ribuan rintik hujan berjuang berkali-kali menguburnya dalam tanah yang berpijak-pijak.


Mimpi yang akhirnya tercecer di setiap perempatan-perempatan jalan.

Kala lampu di situ tidak merah,

Ingin kuteriakkan pada angin, pada daun, pada aspal, pada hujan

“Aku baik-baik saja, Bung!”

Dan kulayangkan senyum pada surat-surat kabar kota, moncong2 radio

Dan stasiun-stasiun TV,

Lalu, kuceritakan kisah daun, meski pohon tak menginginkannya lagi

Ia tetap setia pada sang pohon,

Walau orang berpikir ia selingkuh pada tanah yang menerimanya iklas saat ia jatuh,

Ia tetap setia.

Untuk anak dan istriku aku adalah daun itu

Dengan caranya bersama tanah, bikin pohon terus berbuah meski ia harus mati.


Aku terus hanyut ……….mabuk……..terbang…….berlari..

Bermimpi trus saja bermimpi tentang khayalan anakku

Bermimpi saja tapi jangan pasrah

Bermimpi saja tapi jangan hanya bergantung pada angin dan rintik hujan.

(Terminal Bekasi, 19 Maret 2007)

Biru

Hingga kini,

masih kutatap langit

yang memang hanya bisa berikan aku kebiruan

Kebiruan yang tak kumengerti,

Merambah impian yang begitu jauh

sampai jauh ke langit biru,

telah merobek-robek hatiku.


Jaman dengan nyanyian dunia yang tak kupahami

Menjadikan ruang cinta yang bangun runtuh

bersama catatan dan sajak-sajak perih


Aku disini terus merintih, terhimpit sajak-sajak perih

Kuharap hujan turun membasuh tanah ini

Yang masih menyimpan catatan bersamamu

Yang terkadang masih diperdebatkan hati

Diantara simpang siurnya angin malam


Aku lelah, ingin berkemas

Untuk kenyataan-kenyataan

Kemudian kutulis surat pada angin

Mengentara di kertas-kertas

Berserak mencoreti dinding hatimu

Namun " Kau tetap membisu!"


Ada yang ingin disampaikan angin pada daun jatuh

Di tepian sungai ini, mengantarkan suara-suara.

Barangkali suara itu adalah kau

Adakah yang ingin kau sampaikan?

Adakah yang kau sembunyikan?

Katakanlah.............

Katakanlah apa saja..........


Tak jelas kudengar hanya ricik air yang menggenang

Menerjang kediaman batu-batu karang

Ingin kusuarakan sesak hati

sambil mengayuh sampan-sampan di sini

Hanya terdiam

pandangi lentera dimainkan angin malam.

(Bekasi, 3 Feb 2007)