
Saat binar jadi berpendar
Dan awan berarak menjauh
Langit tak malu-malu
Menudunginya....
Sampan terus terkayuh
aku diam tak bertelut
Kubiarkan damai
Memelukku mesra.
Air bergejolak jadi diam
Sampanku jalan tenang.
(Cikarang, 6 Agustus 2008)
Hanya aliran rasa-rasa yang pernah singgah, ya mengalir saja........
Aku tersesat dalam kebingungan
Ada yang menyelinap di antara dingin pagi dan kabut yang mengaburkan
Ada percakapan yang tertinggal di ruang tamu rumahku
Gerimis menyapaku di senja muram
Tak jua mereda rintiknya
Terus mengucur ringan
Tak jua mengering
Lalu aku terdiam
Mencoba berbicara dengan angin yang datang bersama hujan
Mengeja kata-kata yang telah terlontar
Terlambat menyadari
Sudah terlalu lama suaramu kuimpikan bersama gerimis
Adalah pertemuan itu terjadi
Tapi virus menciptakan amarah
Menciptakan pikiran buruk menjadi pemenangnya
Akal sehat dan sikap bijak terkalahkan
Di kelengangan angin malam yang suntuk
Daun-daun sujud jatuh di pekarangan
Seperti ada sederet kata tertinggal
Ada jiwa terpecah
Merayap pada cermin yang berdetak
Kuterjemahkan jejaknya
Jalan-jalan membuat persimpangan pada cermin jiwa
Adakah kabut tersingkap
Temukan hati bening
dan bayang-bayang menemukan kejelasan tentang bentuknya?
Ah, entahlah aku hanya seorang pengecut
Untuk berani mengetahuinya
(Bekasi, Sabtu 060408)

Aku ingin meniup seruling
Dan kutiupkan nada demi nada
Yang mengalun hangat di resonansinya
Dan ingin kusampaikan betapa baiknya Tuhan
Pagi ini saat mentari masih malu-malu menampakkan diri
Terbius rasa nyaman dalam pelukan malam
Kudengar kicau burung ramai dan riang
Kusujud di kapel Katedral
Siapkan hati untuk hari ini.
Pukul 05.30 kuberanjak pergi
Karmel tujuanku, adalah kelanjutan langkah dari Katedral ini.
Mencari sedikit makanan bagi jiwaku yang hampir terlupakan
Langkahku tiba-tiba saja terhenti
Dan mataku terperangkap pada dua sosok insani
Sepasang Oma dan Opa berjalan bergandengan tangan
Begitu mesra berjalan menuju Gereja.
Rambut mereka sudah memutih semua
Jalan mereka tidak tegap lagi.
Tujuh puluh tahun?Hm....
Delapan puluh tahun??
Opa menuntun Oma dengan begitu hati-hati
Meski tangan Opa yang satunya lagi harus bersandar di tongkat penyangga
Menyangga tubuhnya yang tidak tegap lagi
"Ah....Tuhan, inikah sarapan cinta untukku?" desahku.
Seketika hatiku menjadi hangat
(Katedral, 1 Mei 2008, Kenaikan Isa Almasih)

Untuk Isma-sahabat kecilku.
Ada yang kukagumi
Pada mata indahnya yang berpendar terang.
Meski ada benjolan besar di lehermu.
Saat kita saling bergandeng tangan
Dan menari poco-poco sama sama.
Kamu tertawa selepasnya.
Adik kecil,
Lupakan saja suara-suara sumbang
Yang menghanyutkan air matamu bermancur mancur
Jangan takut!
Terus saja terbang, dan jangan pernah berhenti karena takut!
Sayap-sayap kecilmu menantimu untuk menggerakkannya.
Jalanmu masih panjang, Adik Kecil!
Ayo kembali terbang dan jemput mimpimu.
Ayo terus terbang!
Lukislah langit dengan kepak ceriamu
Layaknya anak sebaya usiamu.
Birukan jejak awan!
Maka kau pasti akan takjub
Betapa kau sangat berharga
Meski kau hanya sebatang kara.
Kamu membuat semuanya jadi tampak indah
Adik kecil,
Kamu juga telah melukis senyum di bibirku.
Membuat hatiku jadi damai seketika.
(Panti Sinar Pelangi, 21 May’06)


Dan siap untuk bekal perjalananku lagi
Beberapa hari yang lalu
Rasanya lelah dan haus
Aku kesakitan dan merintih
Aku berusaha untuk meminta air
Air sejuk pada sahabat-sahabatku
Meski aku diberi hanya setetes
Itu ringankan hausku
Air sejuk buatku berarti rasa damai dan semangat
Aku pernah dapat email bagus dari sahabatku Irmina :
"Apapun yg kita alami baik itu kebaikan atau keburukan, apabila hasilnya akan membuat kita menjadi lebih baik maka KEBURUKAN itupun juga salah satu dari KEBAIKAN. Semua fenomena yg kita alami hanya 3% yang "TERJADI" selebihnya 97% adalah "REAKSI"
Semakin baik kualitas reaksi kita terhadap sesuatu yg terjadi, maka semakin baik pula kualitas hidup kita. Jadi menurutku, hal yg terpenting dalam menjalani hidup adalah Bagaimana Memanage setiap reaksi kita terhadap setiap hal kejadian yg kita alami. (inspirasi Mario Teguh)

Ia menggigitku dengan panasnya
Ia hanya sendiri
Ia terus saja bersinar
Kadang lembut dan hangat
Kadang terik dan galak
Kadang aku tak mengerti
Yang kumengerti
Ia selalu saja Setia
Setia temani aku
Jalani hari
Penuh dengan episode
Tentang cinta
Tentang luka
Tentang kecewa
Tentang harapan
Tentang semangat
Tentang apa saja………
Aku malu padanya
Sampai kuberusaha
Melarikan diriku darinya
Untukku
Beri terang dan cahaya.

Aku tak berkedip menatap wajahmu
satu per satu kenangan itu berhamburan di memoriku
Air mataku meluap tak tertahan
Aku ingin berbisik padamu
Meskipun matamu terpejam
Meskipun kau terdiam kaku
Aku ingin berbisik padamu
lewat rangkaian kata ini
Mas Bejo,
Kau begitu sangat menular
Entah sudah berapa banyak
Kapal-kapal harapan kau luncurkan dari tiap hati kami.
Entah sudah berapa banyak kau roketkan
semangat-semangat yang kami biarkan tidur pulas,
Entah sudah berapa sering kau sentuh hati kami
Hati yang terkadang mudah runtuh dan mulai pasrah
pada angin dan rintik hujan,
Membuat kaki berat menapak lagi.
Kau begitu menular
Semua video kenangan bersamamu
Semua ratusan foto-foto kehadiranmu
Sungguh membuatmu tak pernah mati
Senyummu, sinar matamu, celotehmu
usilanmu, tingkahmu dan semua kegilaanmu
yang selalu saja menghibur dan membuat kami
terbahak lepas seenaknya.
Namun tak jarang juga kau membuat kami terharu.
Kau tak pernah mengeluh, meski hidup seperti mengunyah air matamu,
Kau malah bersahabat dengan matahari.
dan kau tularkan semua sinar terangnya dan hangatnya buat setiap hati.
Selamat Jalan Mas Bejo
Doa kami selalu sertamu.
(RS Mitra Keluarga Bekasi Timur, 16 Juni 2007)
Sekedar mengenang Mas Bejo, yang sabtu kemarin dipanggil pulang oleh Bapa, seseorang yang sangat luar biasa.
Ia sangat menulari teman-temannya dengan SEMANGAT! Pendekatan yang dia pakai cukup unik. Selama hidupnya ia nyaris tak pernah peduli dengan dirinya sendiri, bahkan waktu ia dirawat di RS St. Carolus dengan hipotesa sakit komplikasi yang rumit (jantung, darah tinggi, liver, asam urat, diabetes, en gagal ginjal) ia tak mau kelihatan sakit, ia terus saja melucu en menghibur teman-teman yang menjenguk dia. Bahkan di rumah sakit dengan teman2 sekamarnya ia selalu menghibur en memberi semangat ke pasien2 lainnya.
Semasa hidup, ia banyak berjasa tidak hanya buat KKMK Bekasi, tp juga banyak kasih warna beda di KKMK KAJ, Choice en juga benar2 mengembangkan SENTRAL (Komunitas Buruh di Bekasi) lewat kemandirian ekonomi (Wiraswasta Sederhana) en Sistem Koperasi yang modern.
Ia mau melayani siapa saja, menghibur siapa saja, menolong siapa saja tanpa pamrih, bahkan di hari-hari terakhirnya selalu saja memikirkan
Itulah Mas Bejo, pemilik nama lengkap Antonius Slamet Riyadi, seorang yatim piatu yang punya kehidupan dan hati begitu luar biasa.
Kucoba bergegas mencari matahari
Yang kudengar katanya berlari
Janganlah pergi
Kecamuk tak pasti, membakar emosi
Dimana damai yang aku cari?
Jauh……………………….
Banyak hal yang mesti kucari
Hilang ………
Menjauh…………….
Tapi hatiku tahu
Semuanya
Bekasi, 22 Oktober 2006
Sahabat,
Hujan sudah mulai reda
Dan diatas
Sahabat,
Hujan sudah biasa
Petir, halilintar dan angin kencang
Seperti kemarin
Sudah biasa
Pelangi telah mengajariku tentang harapan
Kala sedih dan air mata mengalir
Berteman luka dan kecewa
Aku ingat pelangi yang warna-warni
Lembut dan serasi seperti lukisan alami
Setelah hujan badai
Setelah petir menggelegar
Setelah kilat yang menakutkan
Setelah langit gelap
Setelah angin kencang
Ingat pelangi
Pelangi,
Mengingatkanku bahwa masih ada matahari
Matahari yang mengajarku juga untuk setia
Setia jalani hidup apa adanya
Tidak menangis kala sendiri
Kala bintang dan bulan mengambil alih
Toh, masih ada esok hari
Untuk dapat bersinar lagi
(Tol Ckr-Bks, 17 Mar'07)

Menjumpaimu ketika sang surya malu-malu beranjak pergi
Hanya lewat kenangan-kenangan yang diterbangkan angin
Kerendahan hati dan kehangatanmu
Membuatku tersenyum
Tergetar bersama gelombang
Telah kukirim senyumku padamu kakanda,
Tak habis-habisnya kumengerti
Dan telah kubiarkan semua kenangan tentangmu
Selalu menemaniku melewati hari-hari
Angin mengantarkan kerinduan
Yang membawaku sampai disini
Ingin kuurai rindu
Meski kadang ada tanya yang menari
Bagaimana dapat kuterjemahkan mimpi-mimpimu
Tentang kita di esok hari
Rapi kusimpan catatan bersamamu
Meski baru beberapa lembar saja
Tapi hati tak pernah bohong,
Di matamu ingin kugambarkan perjalanan hatiku.

Telah kuungsikan mimpi
Ucapkan selamat tinggal pada sawah ladang
Aku pergi ulurkan persahabatan dengan mesin-mesin pabrik,
Gedung-gedung perkantoran yang katanya menjanjikan!
Tergoda nyanyian zaman yang dibawa televisi-televisi masuk ke seluruh denyut nadiku
aliran darahku, merasuk, mengalir...... dan membangkitkan gairahku untuk bermimpi
Gemerlap
Ya, dan aku pun terhanyut
Terus mabuk……….mabuk!
Tak berpijak lagi pada bumi dan tanah leluhur yang melahirkanku
Gelombang dan terpaan yang dimiliki
Seperti magnet bagiku.
Tapi lama-lama irama itu mengapa makin menyayat-nyayat hati, genderangnya apalagi
Melindas tanpa ampun, tanpa bulu, tanpa iba……
Buat aku yang pasrah dan bergantung begitu saja pada angin dan rintik hujan
Akhirnya, aku terseret ke lorong-lorong jalan, ke terminal-terminal, ke lampu merah-lampu merah.
Sambil jajakan dagangan, dan teriakkan harapan
Harap daganganku laku dan pulang bawa uang untuk anak-istriku
Belajar terjemahkan tiap langkahku, aduh…..mengapa?
Tangis batin menjerit-jerit!
tapi terhibur pengertian dan kesabaran
setiap kali Matahari mengunyah airmata
Air mata yang terus menghitung berapa utang terbebani
Tapi, mimpi itu tetap ada
Mimpi pijar lampu neon
Meski ribuan rintik hujan berjuang berkali-kali menguburnya dalam tanah yang berpijak-pijak.
Mimpi yang akhirnya tercecer di setiap perempatan-perempatan jalan.
Kala lampu di situ tidak merah,
Ingin kuteriakkan pada angin, pada daun, pada aspal, pada hujan
“Aku baik-baik saja, Bung!”
Dan kulayangkan senyum pada surat-surat kabar
Dan stasiun-stasiun TV,
Lalu, kuceritakan kisah daun, meski pohon tak menginginkannya lagi
Ia tetap setia pada sang pohon,
Walau orang berpikir ia selingkuh pada tanah yang menerimanya iklas saat ia jatuh,
Ia tetap setia.
Untuk anak dan istriku aku adalah daun itu
Dengan caranya bersama tanah, bikin pohon terus berbuah meski ia harus mati.
Aku terus hanyut ……….mabuk……..terbang…….berlari..
Bermimpi trus saja bermimpi tentang khayalan anakku
Bermimpi saja tapi jangan pasrah
Bermimpi saja tapi jangan hanya bergantung pada angin dan rintik hujan.
(Terminal Bekasi, 19 Maret 2007)
Hingga kini,
masih kutatap langit
yang memang hanya bisa berikan aku kebiruan
Kebiruan yang tak kumengerti,
Merambah impian yang begitu jauh
sampai jauh ke langit biru,
telah merobek-robek hatiku.
Jaman dengan nyanyian dunia yang tak kupahami
Menjadikan ruang cinta yang bangun runtuh
bersama catatan dan sajak-sajak perih
Aku disini terus merintih, terhimpit sajak-sajak perih
Kuharap hujan turun membasuh tanah ini
Yang masih menyimpan catatan bersamamu
Yang terkadang masih diperdebatkan hati
Diantara simpang siurnya angin malam
Aku lelah, ingin berkemas
Untuk kenyataan-kenyataan
Kemudian kutulis
Mengentara di kertas-kertas
Berserak mencoreti dinding hatimu
Namun " Kau tetap membisu!"
Di tepian sungai ini, mengantarkan suara-suara.
Barangkali suara itu adalah kau
Adakah yang ingin kau sampaikan?
Adakah yang kau sembunyikan?
Katakanlah.............
Katakanlah apa saja..........
Tak jelas kudengar hanya ricik air yang menggenang
Menerjang kediaman batu-batu karang
Ingin kusuarakan sesak hati
sambil mengayuh sampan-sampan di sini
Hanya terdiam
pandangi lentera dimainkan angin malam.
(Bekasi, 3 Feb 2007)